Blogging di 2026, Emang Laku?
Entah apa yang dilakukan pakde-pakde tigapuluh tahun plus ini, di jaman yang serba cepat, akses konten serba visual. Konten 30 detik berupa video pendek, berbagai macam platform berlomba-lomba menggaet pengguna menjebak mereka dengan dumbscrolling tiada henti.
Sedangkan pakdemu yang satu ini memilih menulis di blog yang jelas-jelas “ketinggalan” jaman banget.
Lucu sekaligus ironi tapi beginilah, konten ngomong di depan kamera bukan keahlian pakde, bukan ga bisa dipelajari, tentu saja bisa, tapi rasa nyaman menuangkan ide lewat tulisan dan merangkai kata-kata adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan, ada hal-hal yang lebih nyaman untuk dituliskan, memberikan banyak jeda untuk berpikir ulang, menata sedemikian rupa agar layak untuk dinikmati.
Lagi pula buat pakde yang nganggur dan senggang ini waktu luang terlalu berlimpah, jadi mengetik dan menata kalimat panjang bukan jadi soal, sembari bersantai menikmati seduhan kopi dari roasteri lokal. Ini lebih mudah bagi pakde daripada harus menyiapkan ring light, memasang muka presentable, tersenyum ramah, atau pura-pura marah di depan kamera, sungguh akting bukan hal yang pakde kuasai tapi, memperhatikan bagaimana orang lain beradu akting adalah hal favorit pakde, bai berupa film maupun voice over dalam animasi dan game.
Nah, di blog ini mungkin pakde bakal banyak bahas film, game jadul dan animasi, sembari menikmati seduhan kopi pakde. Gimana? Berhenti sejenak dari kejaran berbagai macam informasi yang serba kilat, atau mungkin merenung sebentar sebelum mengunggah video joget trend yang mungkin saja umurnya hanya sampai beberapa hari lalu tergilas trend baru yang ga ada habisnya?
Kalau diingat ingat kapan terakhir kali kita merenungkan lebih dalam informasi yang kita konsumsi? Ataukah semuanya sebatas selewatan dan terlupakan dalam beberapa hari? Jam? Menit? Detik?
Sini, duduk, lenggah sing anteng, Pakde bikinin kopi atau kamu mau bikin sendiri? di dunia yang serba instant pakdemu ini lebih memilih menyeduh kopi secara manual, menimbang biji kopi, menggiling dengan handgrinder, dan penuh kesabaran menunggu tetes demi tetes kopi keluar dari corong v60. Kalau kamu nemu blog ini pakde ingin, ini jadi pemberhentian sejenak, ruang kecil bagi kamu dan pakde untuk mengambil jeda dan nafas, terlepas dari kejaran trend video pendek yang isinya jogat-joget atau marah-marah tantrum karena kalah dapet diskon live jualan di social commerce
Mungkin ada yang bertanya? “Pakde, emang di tahun2026 masih ada yang baca baca blog?” Kalau ditanya begitu mungkin jawaban pamungkas pakde. “Mana saya tahu, tanya kok tanya pakde” dan sejujurnya pakde jug yakin ga banyak yang masih blogwalking di jaman sekarang, hayo apa itu blogwalking? Tua banget ya pakde. Namanya juga pakde-pakde, tapi gini menulis itu bagi pakde satu metode memerdekakan diri, menyampaikan uneg-uneg dan ekspresi diri, pakde bebas jadi penulis, sutradara, bahkan aktornya sendiri, meskipun pakde ga jago akting, paling tidak dari rangkaian diksi yang pakde susun cukup untuk menggambarkan kegelisahan pakde. Menulis adalah cara pakde menajaga kewarasan di tengah hiruk pikuk jagat maya yang semakin berisik.
Pernah ngerasa ga sih, rasanya baru saja membuka aplikasi sosial media, lalu tak terasa sudah larut malam, padahal niat awalnya cuma rebahan dan scroll sebentar sebelum beranjak istirahat. Waktu kita tercuri tapi tak ada yang didapat, yang ada malah kepala pusing, mata lelah, jari dan leher terasa pegal dan nyeri. Kebanyakan aplikasi sosmed memang dirancang untuk menjebak kita terhanyut berjam jam, tanpa mendapatkan apa apa. Dan berujung burnout dan kelelahan digital. Anggap saja ini sebagai ruang tamu digital, Sama-sama dalam bentuk digital tapi ruang tamu pakde lebih hening tanpa suara jedag-jedug, kamu bisa membacanya dengan ritme lebih pelan dan santai, buat kamu yang berakhir menemukan ruang tamu digital pakde, selamat semoga tidak bosan dan masih punya attention span yang lebih baik dan bersama menghargai waktu. Untuk merenungkan kembail apa yang udah kita cerna dari berbagai macam produk digital.
Mungkin yang pakde suguhkan di ruang tamu kecil ini jauh dari kata mewah, terkesan campur-aduk dan gado-gado. Sebentar-sebentar ngomongin kopi dan berfilosofi, germerincing biji kopi dan gemertaknya beradu degan burr canonical grinder, menunggu blooming coffee bed yang pecah melepaskan karbondioksida yang terjebak pada masa roastering, melihat lagi akurasi tetesan air mili demi mili? Sampai ke hal hal sepele dari film-film dan ngumpulin 900 biji korok di game Zelda Breath of The Wild.
Silahkan tarik kursi, pilih kopi favoritmu mau kopi gunting atau kopi giling ga da yang salah, yang terpenting, gunakan ruang tamu digital ini untuk sejenak pause, merenung, membaca, memcerna, sebelum kembali memutuskan dan melanjutkan aktivtas.
Sugeng rawuh, di dunia pakde lanang, dunia di mana tidak semua hal harus yang paling cepat, paling update, karena menikmati game-game jadul masih bisa menghibur, terpekur tanpa terseret arus algoritma yang terasa begitu cepat membuat kita merasa bersalah jika telat mengikuti trend yang ada. We aren’t fear of missing out.


Komentar
Posting Komentar